Skip to content

Musisi Jalanan

by pada 6 Januari 2015
(www.itb.ac.id)

(www.itb.ac.id)

Oleh Alvian Dwi, Bunga Diadara, Fildza Utami, Indra Putra. Revi Noviansyah, Puspaningtyas

Kubuka matakku, menyusuri pagi yang sepi
Kutinggalkan rumah, dengan tekad yang kuat
Dengan sepasang sendal sang pelindung kak
Kumantapkan langkah menuju jalan yang berliku

Matahari baru kelur dari peraduannya
Saat ia menatapku dengan senjat/aku
Sebuah kado pemberian ayah yang terakhir
Gitarku …

Ketika kakiku sibuk menyusuri tapak demi tapak perjuanganku
Kulihat mereka terburu-buru mengajar sesuatu
Sesuatu yang saat ini tak kurasakan
Menuntun ilmu yang seharusnya kudapat

Kuhela nafasku, kupejamkan mata, kuhilangkan sejenak kebisingan di sekitarku
Lalu kulihat sejenak bayangan ibu dan kedua adikku
Terpilar betapa beruntungnya ketika kutatap mereka yang berseragam
Sementara aku, hanya berbalut kaus usang dengan niat meneruskan nafas

Lampu merah adalah favoritku
Kutemui harapan yang sangat membahagiakan di sana
Kunyanyikan  sebuah lagu di samping kaca-kaca penentu nasibku
Mirisnya, hanya maaf yang kuterima dari balik kaca itu

Kekecewaan merayap di sekujur  tubuhku ketika kata maaf itu terucap
Bertahan sangatlah sulit untukku
Meneruskan hidup di tengah sombongnya manusia
Kucari setitik tempat untukku, musisi jalanan

From → Puisi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: