Skip to content

Cerpen: Sebuah Kicauan untuk Ayah

by pada 24 Januari 2015
(fisgoldfinch.wordpress.com)

(fisgoldfinch.wordpress.com)

Oleh Fajar Winarso

Kini, semua yang aku ketahui sudah menjadi rahasia umum. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan yang ayah ambil sungguh tak bisa aku otak-atik. Orang itu menunjuk sosok panutanku untuk menjadi salah satu menteri di negara ini.  Sehingga ayah tidak dapat berbuat apa-apa.  Aku tidak akan bisa melihat sosok yang kuidamkan.

Di dunia ini, aku hanya hidup berdua dengan ayah. Akupun sudah lama tidak dapat mengingat wajah wanita yang telah melahirkanku. Sebab, wanita yang seharusnya kupanggil ibu itu sudah lama pergi mendahuluiku dan ayah menghadap sang pencipta sesaat setelah melahirkanku.

Setelah ibu pergi, ayah harus menjalani hidup di dunia yang fana ini berdua denganku. Menghidupiku dengan usahanya yang sedang berkembang. Ayah adalah seorang yang berperingai baik. Raut wajahnya bak seorang bangsawan yang memiliki pesona di wajahnya. Setiap anak buah ayah melihat wajahnya bak kesatria. Presiden Joko Widodo bersandang kekediamanku. Perasaanku mengatakan, kedatangannya membawa berita baik sekaligus buruk.

Benar dugaanku, beliau meminta ayah mengambil peran dalam pemerintahannya. Entah dari segi apa pak presiden melihat ayahku yang sederhana untuk menjadi salah satu menteri yang  membantunya membangun negara ini. Aku takut, jabatan itu membuat ayah jauh dariku. Takut akan kehilangan sifat penyayang ayah. Takut akan kehilangan sosok yang menjadi panutanku. Sebab, ayah akan hidup terpisah denganku.

Hari-hari berganti, semua kerisauanku terhadap ayah kini sudah kadaluarsa. Pada 27 Oktober 2014, ayah sudah mendapat gelar sebagai menteri kordinator perekonomian. Kini ayah tidak hanya berkewajiban menjadi panutanku, tetapi menjadi panutan semua masyarakat. Profesinya membuat dirinya memiliki hak-hak istimewa. Hak-hak yang menurutku sungguh berlebihan.

Saat itu, senyum diwajahnya sedikit berkembang. Dari kejauhan, aku dapat melihat ayah memiliki kebanggan tersendiri menjadi seorang menteri. aku hanya terdiam di kursi roda menunggu pelantikan selesai terlaksana.

Kalian tahu, sebenarnya menjadi anak seorang menteri tidaklah semenarik dan sebahagia yang dilihat orang lain. Aku harus bisa menjaga perilaku, serta berbagai tatakrama untuk menghormati nama baik ayahku. Selain itu, aku juga tidak silau harta dan fasilitas yang ayah berikan.

Ayah sebenarnya tersiksa dengan profesi ini. membuatnya jauh denganku. Tapi mau bagaimana lagi, kalau sudah diamanahkan mengemban tanggung jawab harus ia teruskan. Terlebih lagi, ayah sungguh orang yang gemar membantu orang lain.  Menjauhi amanah baginya seperti menjauhi Tuhan.

*******

Malam pun tiba. Biasanya, menggendong tubuhku yang ringkih ini ke ranjangku serta menemaniku menjulurkan selimut hangat untuk melindungi tubuhku dari dinginnya malam. Namun, sekarang aku harus rela mengusir dinginnya malam dengan seorang diri. Ayah tidak memiliki waktu untukku walau hanya sedetik.

Ku pegang gagang telpon genggam yang ajudan ayah berikan kepadaku untuk sewaktu-waktu apabila aku membutuhkannya. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dengan memberikan telepon genggam itu. Pikiranku hanya terfokus bahwa Ayah sudah tidak memperhatikanku lagi. Dia sekarang sudah tenggelam dengan kesibukannya menjadi seorang menteri.

Aku paham dengan kondisinya sekarang. Namun, ada satu hal yang tidak aku mengerti. Kemana  perginya sifat ayah yang selalu aku jadikan panutan. Setiap malam aku selalu merindukan sosoknya. Aku tidak tahu kapan ayah akan memiliki waktu bersamaku. Aku tidak menginginkan semua fasiltas yang ayah inginkan. Aku hanya membutuhkan sosok yang dapat menasehatiku. Mobil mewah, penjagaan ketat bagiku hal yang percuma. Hal itu tidak dapat menggantikan posisimu ayah.

Hari libur biasanya dimanfaatkan oleh kebanyakan masyarakat untuk bersenang-senang bersama keluarga. Namun, tidak demikian denganku. sekarang, libur sudah tidak ada dalam kamusnya.

“Apa ayah sudah tidak melupakanku yah?”, pikirku dalam hati.

Setelah ayah menjadi menteri aku hanya ditemani oleh 1 ajudan ayah berpakaian seperti satpam dan 3 baby sitter di rumah. 2 dari 3 baby sitter itu yang membantuku dalam keseharian yang melelahkan. Mereka membantu menaikanku ke kursi roda buluk yang selalu aku pakai untuk berpindah-pindah lokasi. Sampai membantu menaikan badanku ke ranjang menggantikan ayahku.

Mereka orang-orang yang ayah pekerjakan untuk menjaga dan merawatku selagi dia sibuk dengan aktifitasnya. Selagi dia sibuk dengan permasalah ekonomi yang menjerat negara ini.

“Bibi, kira-kira ayah kapan pulang yah?”, tanyaku kepada bi munah salah satu baby sister.

“Bibi juga kurang tau non,” jawabnya lemas.

Mereka bergiliran menghiburku dikala aku rindu dengan ayah. merekalah sekarang yang dapat menggantikan sedikit posisi dari ayahku.  Namun, semua itu tidak sepadan dengan sosok yang aku idamkan. Biasanya ayah sendiri yang memasak sarapan pagi untukku. Namun, saat ku tengok dapur hanya kulihat bayangan bi minah dan bi munah sedang berberes perabotan rumah.

Aku hanya menginginkan sosok ayahku kembali. Aku mulai terbayang sewaktu ayah mengajakku kesebuah taman di dekat rumah. Ayah menuntun kursi rodaku dengan penuh hati-hati seakan takut anak perempuannya ini jatuh. Kami bersenang-senang. Kami melepas semua beban yang mengikat leher kami. Ayah menaikanku ke sebuah ayunan. Tentu saja sacar menaikkannya dengan menggendong tubuhku yang lumbuh ini.

Sebagian anggota tubuhku memang lumpuh. Kelumpuhan tersebut merupakan bawaan kelahiran. Kelumpuhan tersebut efek dari kelahiranku yang menyulitkan. Anggota tubuh bagian bawah dari pinggang sampai kaki ku memang tidak bisa digunakan sehingga aku terpaksa memakai kursi roda.

Semenjak menjadi menteri, ayah selalu mengirimiku kursi roda baru. Namun aku selalu menolak pemberiannya karena menganggap kursi roda ku yang pertama jauh lebih kuat dibanding yang baru. Selain itu, alasan yang selalu ku gunakan untuk menolak adalah karena aku tidak membutuhkannya, aku lebih membutuhkan perhatian ayah daripada materi dan fasilitas yang ayah berikan.

Dalam buku ini aku bercerita semua keluh kesahku. Keluhan terhadap semua yang aku rasakan. Serta harapan yang tak akan pernah usang. Harapan bahwa suatu hari ayah akan kembali dan memberikan perhatian serta kasih sayangnya untukku seorang. Aku memang tergolong anak perempuan yang egois. Aku tidak mampu perhatian ayah terbagi lagi sehingga dia terkesan mencampakkanku.

Semoga suatu saat setelah ayah menjalani berbagai macam pengalaman menjadi seorang menteri, dia dapat membaca kicauanku tentangnya ini. semoga saja dia selalu sehat dalam segala kondisi. Serta selalu mengingat keberadaan diriku yang selalu mengharapkan kedatangannya kembali kerumah kami yang sederhana lagi hangat.

Aku rindu perhatianmu ayah. Semoga kicauan ini sampai ketelingamu tanpa aku sampaikan.  Kicauan dari anak perempuanmu yang lemah ini, yah. Sehingga kita dapat bersenang-senang lagi melepaskan penat di pikiranmu, yah. Aku mencintaimu ayah.

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: